GMN Energy

Remote Monitoring System

This Remote Monitoring System is currently monitoring PV Powered Charging Station in Surabaya, managed by Electric Car Research Center - Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Data stored in our database for every 10 seconds from each sensor readings. Our controller capable of reading sensor input up to 4 current channel, 4 voltage channel, and 2 additional sensor (usually irradiance and temperature/humidity).

Lingkup Aplikasi PLTS

Salah satu cara penyediaan energi listrik alternatif yang siap untuk diterapkan secara masal pada saat ini adalah menggunakan suatu sistem teknologi yang diperkenalkan sebagai Sistem Energi Surya Fotovoltaik (SESF) atau secara umum dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Sebutan SESF merupakan istilah yang telah dibakukan oleh pemerintah yang digunakan untuk mengidentifikasikan suatu sistem pembangkit energi yang memanfaatkan energi matahari dan menggunakan teknologi fotovoltaik. Tetapi masyarakat umum lebih mengenal dengan sebutan PLTS. Dibandingkan energi listrik konvensional pada umumnya, PLTS terkesan rumit, mahal dan sulit dioperasikan. Namun dari pengalaman lebih dari 20 tahun operasional di beberapa kawasan di Indonesia, PLTS merupakan suatu sistem yang mudah didalam pengoperasiannya, handal, serta memerlukan biaya pemeliharaan dan operasi yang rendah. Hal ini menjadikan PLTS menjadi bersaing dengan teknologi konvensional pada sebagian besar kondisi wilayah Indonesia yang terdiri atas pulau - pulau kecil yang tidak terjangkau oleh jaringan PLN dan tergolong sebagai kawasan terpencil.

Bidang aplikasi PLTS sangat luas dan hampir setiap kebutuhan jasa energi (khususnya listrik) atau kegiatan lain dapat memanfaatkan PLTS. Terlebih lagi untuk Indonesia, PLTS dapat menjangkau daerah perdesaan terpencil. Mengingat sifatnya yang sangat modular dalam teknik rancang bangun dan pemanfaatannya.

Aplikasi PLTS dapat diterapkan untuk pemasangan individual maupun kelompok sehingga dapat dilakukan dengan swadaya perorangan, masyarakat, pemerintah, perusahaan atau dikoordinir oleh PLN. Dalam hal pendanaan; proyek fotovoltaik menjadi sangat mungkin melalui pijaman lunak, partisipasi perusahaan (corporate social responsibility) untuk mendukung program listrik pedesaan atau penyediaan jasa energi seperti:

  • Listrik untuk penerangan rumah tangga
  • Jasa energi untuk fasilitas umum: pompa air irigasi/minum, penjernihan air, rumah peribadatan, telepon umum atau pedesaan, televisi umum, penerangan jalan dan lainnya
  • Listrik perdesaan dan pemasok energi bagi kegiatan produktif masyarakat, misal dengan sistem teknologi PLT Hibrida
  • Catudaya pada sarana telekomunikasi, misal: BTS, TVRO, dan stasiun pancar ulang.
  • Integrasi fotovoltaik pada bangunan sebagai bagian upaya penghematan sumber energi konvesional dan supply side management.

Modul Fotovoltaik

Modul fotovoltaik (PV Module) muncul dengan berbagai sebutan. Ada yang menyebut sebagai Panel Fotovoltaik (PV panel) dan panel surya. Modul fotovoltaik merupakan susunan sel surya atau sel fotovoltaik yang dirangkai secara seri dan/atau paralel.  Produk akhir dari modul fotovoltaik menyerupai bentuk lembaran kaca dengan ketebalan sekitar 6 - 8 milimeter. Efisiensi pembangkitan energi listrik yang dihasilkan modul fotovoltaik pada skala komersial saat ini adalah sekitar 14 - 17 %.

Besar energi listrik yang dihasilkan oleh modul fotovoltaik tergantung pada intensitas radiasi matahari setempat dan kapasitas modul fotovoltaik itu sendiri. Didalam perdagangan, kapasitas daya modul fotovoltaik dinyatakan pada kapasitas puncaknya, yaitu besarnya daya yang mampu dibangkitkan modul fotovoltaik pada keadaan standar uji (Standard Test Condition - STC) dan dinyatakan dalam satuan: Watt-peak (Wp). Standar uji ini ditetapkan pada intensitas 1000 W/m2 dan temperatur sel 25 oC. Didalam realita; modul fotovoltaik akan bekerja dengan radiasi yang berfluktuatif dan suhu sel yang lebih tinggi. 

Di Indonesia, besar energi matahari yang jatuh pada permukaan seluas satu meter persegi selama satu hari berkisar antara 3 - 6 kWh (satuan : kWh/m2.hari). Misal, untuk modul fotovoltaik 100 Wp yang diterapkan pada daerah dengan penyinaran matahari rata-rata 4,5 kWh/m2.hari akan mampu menyediakan energi sekitar 300 Watt-jam/hari.

Sel Fotovoltaik

Efek fotolistrik ini terjadi pada suatu sel yang terbuat dari bahan semikonduktor. Karena sifatnya, sel ini kemudian disebut sebagai sel fotovoltaik (photovoltaic cell) atau sering juga disebut sebagai sel surya (solar cell). Sel fotovoltaik merupakan komponen terkecil didalam sistem energi surya fotovoltaik (SESF).

Sinar matahari yang menimpa permukaan sel diubah secara langsung menjadi listrik sebagai akibat terjadinya pergerakan pasangan electron-hole, sebagaimana digambarkan pada skema dibawah ini. Teknologi sel fotovoltaik yang tersedia dewasa ini masih didominasi oleh jenis sel dengan teknologi kristal, baik mono- maupun poli-kristal, khususnya dari bahan dasar silikon.

Teknologi Fotovoltaik

Teknologi fotovoltaik merupakan suatu teknologi konversi yang mengubah cahaya (foto) menjadi listrik (volt) secara langsung (direct conversion). Peristiwa ini dikenal sebagai efek fotolistrik (photovoltaic affect). Didalam proses konversi cahaya-listrik tidak ada bagian yang bergerak, sehingga produk teknologi fotovoltaik memiliki umur teknis yang panjang (>25 tahun).

Teknologi fotovoltaik dikenal sebagai teknologi bersih sehingga penerapannya akan mendukung program pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Beberapa keuntungan dari pemanfaatan teknologi fotovoltaik, antara lain:

  • Biaya operasional dan perawatan yang rendah (tidak diperlukan pembelian bahan bakar dan keausan dalam proses konversi)
  • Tidak menimbulkan polusi udara karena tidak ada proses pembakaran sehingga mengurangi pelepasan gas rumah kaca (greenhouse gas
  • Tidak menimbulkan kebisingan karena tidak ada bagian yang bergerak.

 

 

Subcategories